Kesalahan yang Sering Dilakukan UMKM Saat Ekspor & Cara Menghindarinya

kesalahan umkm ekspor

Banyak UMKM yang mencoba menembus pasar global akhirnya gagal, bukan karena produk mereka kurang diminati, melainkan karena kesalahan prosedur ekspor. Mulai dari dokumen yang tidak lengkap, pengemasan yang tidak sesuai standar, hingga salah memilih metode pengiriman, semua dapat menghambat proses ekspor meskipun produknya berkualitas.

Oleh karena itu, penting bagi UMKM untuk memahami kesalahan umum yang sering terjadi agar bisa lebih siap menghadapi tantangan ekspor. Dengan belajar dari pengalaman, pelaku UMKM dapat memperbaiki strategi sejak awal.

Untuk panduan dasar yang lebih lengkap, Anda juga bisa membaca artikel pilar kami tentang Panduan Ekspor Barang untuk Pemula.

BACA CEPAT

Kesalahan dalam Pemilihan Produk untuk Ekspor

Banyak UMKM salah langkah sejak awal karena tidak menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar global. Bagian ini membahas kesalahan umum dan cara menghindarinya.

Produk Tidak Sesuai Permintaan Pasar

Salah satu kesalahan paling umum adalah mengirim produk yang tidak sesuai dengan selera pasar negara tujuan. UMKM sering kali mengandalkan intuisi tanpa riset mendalam. Akibatnya, produk yang dikirim tidak mendapat sambutan baik dari konsumen luar negeri.

Setiap negara memiliki tren konsumsi yang berbeda. Misalnya, makanan ringan dengan rasa pedas mungkin populer di Asia Tenggara tetapi kurang diminati di Eropa. Riset pasar membantu UMKM menyesuaikan produk agar lebih relevan.

Dengan memahami preferensi konsumen global, UMKM dapat menghindari kegagalan penjualan. Hal ini meningkatkan peluang sukses ekspor dan memperkuat posisi produk di pasar internasional.

Mengabaikan Standar Kualitas Internasional

Banyak UMKM masih mengabaikan standar kualitas yang berlaku di pasar global. Produk yang tidak memenuhi standar keamanan atau kualitas sering ditolak di bea cukai. Hal ini menimbulkan kerugian besar baik secara finansial maupun reputasi.

Standar kualitas biasanya mencakup keamanan pangan, ketahanan produk, dan sertifikasi tertentu. Misalnya, produk makanan harus memiliki label gizi yang jelas dan sertifikat kesehatan. Tanpa itu, peluang ekspor akan semakin kecil.

Mematuhi standar internasional adalah investasi jangka panjang. Dengan kualitas yang konsisten, UMKM bisa membangun kepercayaan buyer internasional. Hal ini menjadi modal penting untuk keberlanjutan bisnis ekspor.

Salah Menentukan Harga Ekspor

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah salah dalam menentukan harga jual di pasar internasional. Banyak UMKM hanya menambahkan margin tanpa memperhitungkan biaya logistik, pajak, dan bea masuk. Akibatnya, harga menjadi tidak kompetitif atau justru merugikan penjual.

Harga ekspor harus memperhitungkan semua biaya tambahan yang muncul dalam proses distribusi. UMKM perlu memahami struktur harga yang sesuai agar tetap bersaing. Perbandingan dengan produk serupa di pasar global juga penting dilakukan.

Dengan strategi harga yang tepat, UMKM tidak hanya bisa bertahan tetapi juga berkembang. Harga yang kompetitif sekaligus realistis menjadi daya tarik utama bagi pembeli internasional.

Tidak Mengutamakan Keunikan Produk Lokal

Banyak UMKM terlalu fokus meniru produk luar negeri tanpa menonjolkan keunikan lokal. Padahal, daya tarik utama produk Indonesia di pasar global adalah kekhasan budayanya. Produk tanpa identitas lokal cenderung kalah bersaing dengan brand internasional.

Keunikan seperti motif batik, rempah khas, atau kerajinan tradisional bisa menjadi nilai jual tinggi. Konsumen internasional mencari sesuatu yang berbeda dan autentik. Mengabaikan faktor ini berarti melewatkan peluang besar.

Dengan mengutamakan identitas lokal, UMKM dapat membangun brand yang kuat. Produk unik lebih mudah dikenali dan memiliki daya tarik emosional bagi konsumen global. Strategi ini membantu menciptakan loyalitas pasar jangka panjang.

Kurangnya Inovasi dalam Produk Ekspor

Selain keunikan, inovasi juga menjadi faktor penting dalam ekspor. Banyak UMKM berhenti berinovasi setelah menemukan produk yang laku di pasar lokal. Padahal, pasar global menuntut produk yang terus berkembang mengikuti tren.

Inovasi dapat berupa variasi rasa, desain kemasan, atau teknologi produksi yang lebih efisien. Misalnya, produk kopi tidak hanya dijual dalam bentuk bubuk, tetapi juga dalam kemasan siap seduh. Inovasi semacam ini memberi nilai tambah di mata konsumen internasional.

Dengan terus berinovasi, UMKM bisa menjaga daya saing di pasar global. Produk yang segar dan relevan lebih mudah diterima serta dipertahankan di pasar ekspor. Hal ini membuka peluang ekspansi ke lebih banyak negara.


Kesalahan Administrasi dan Dokumen Ekspor

UMKM Ngebet Ekspor? Pantengin Dulu Syaratnya! | Podcast Uang Bicara

Dokumen adalah syarat vital agar barang bisa lolos bea cukai. Kesalahan administratif sering membuat UMKM gagal ekspor. Bagian ini membahasnya secara detail.

Kesalahan Penulisan pada Invoice & Packing List

Salah satu kesalahan yang paling sering terjadi adalah penulisan data yang tidak akurat pada invoice atau packing list. Misalnya jumlah barang, berat, atau deskripsi produk yang tidak sesuai dengan isi paket. Hal ini bisa menyebabkan pemeriksaan tambahan di bea cukai.

Kesalahan administrasi ini tampak sepele, tetapi bisa mengakibatkan keterlambatan pengiriman. Bahkan, dalam beberapa kasus, barang bisa ditolak masuk ke negara tujuan. UMKM perlu lebih teliti dalam menyiapkan dokumen dasar ekspor.

Solusinya adalah selalu melakukan pengecekan ulang sebelum dokumen diajukan. Dengan data yang konsisten dan akurat, proses pemeriksaan akan lebih cepat dan lancar. Hal ini juga meningkatkan kepercayaan importir terhadap profesionalitas UMKM.

Tidak Menyiapkan Sertifikat Asal (COO)

Banyak UMKM belum memahami pentingnya Certificate of Origin (COO). Dokumen ini membuktikan bahwa produk benar-benar berasal dari Indonesia. Tanpa COO, barang sering kali tidak bisa mendapatkan fasilitas tarif preferensi di negara tujuan.

COO biasanya dikeluarkan oleh Kamar Dagang dan Industri (KADIN) atau lembaga terkait. Proses pengurusannya tidak sulit, tetapi sering diabaikan oleh UMKM pemula. Padahal, dokumen ini bisa membuat biaya impor lebih murah bagi pembeli.

Dengan menyiapkan COO, UMKM tidak hanya memenuhi regulasi, tetapi juga memberi nilai tambah bagi produk. Importir akan lebih tertarik bekerja sama jika produk memiliki dokumen yang lengkap. Hal ini meningkatkan daya saing di pasar global.

Mengabaikan Izin Khusus & Regulasi Produk

Setiap negara memiliki regulasi khusus terkait impor barang tertentu. Misalnya, produk pangan memerlukan sertifikat kesehatan, sementara produk kayu memerlukan izin khusus dari kementerian. Banyak UMKM yang tidak menyiapkan hal ini sejak awal.

Akibatnya, barang sering tertahan di pelabuhan atau bahkan dikembalikan ke negara asal. Kerugian tidak hanya berupa biaya logistik, tetapi juga hilangnya kepercayaan buyer. Hal ini bisa berdampak buruk bagi reputasi bisnis jangka panjang.

Solusinya adalah melakukan riset regulasi negara tujuan sebelum mengirim barang. Forwarder juga biasanya memberikan panduan terkait dokumen dan izin khusus. Dengan langkah ini, risiko kegagalan ekspor bisa diminimalisir.

Lalai dalam Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB)

Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) adalah dokumen resmi yang harus disampaikan ke bea cukai. Banyak UMKM yang lalai atau salah dalam mengisi dokumen ini. Akibatnya, barang tidak diizinkan keluar dari pelabuhan.

Kesalahan dalam PEB sering terjadi karena kurangnya pemahaman prosedur. Data yang tidak sesuai dengan invoice dan packing list juga bisa menimbulkan masalah. Hal ini menunda proses ekspor dan meningkatkan biaya tambahan.

Untuk menghindarinya, UMKM bisa bekerja sama dengan forwarder berpengalaman. Forwarder biasanya membantu mengurus PEB sehingga dokumen lebih cepat dan akurat. Dengan cara ini, proses ekspor berjalan lebih efisien.

Tidak Menyertakan Asuransi Ekspor

Banyak UMKM menganggap asuransi ekspor tidak perlu karena menambah biaya. Padahal, asuransi adalah perlindungan penting terhadap risiko kerusakan atau kehilangan barang. Tanpa asuransi, kerugian sepenuhnya ditanggung oleh penjual.

Risiko dalam pengiriman internasional cukup tinggi, mulai dari cuaca buruk, kecelakaan, hingga pencurian. Asuransi memberikan jaminan kompensasi jika hal buruk terjadi. Hal ini membantu menjaga keberlangsungan bisnis UMKM.

Dengan menyertakan asuransi, UMKM juga meningkatkan kepercayaan buyer. Importir akan merasa lebih aman bekerja sama dengan penjual yang mengutamakan keamanan. Ini menjadi nilai tambah yang membuat UMKM lebih profesional.


Kesalahan dalam Pengemasan & Labeling

Kemasan bukan hanya pelindung, tetapi juga identitas produk. Kesalahan di tahap ini dapat membuat barang ditolak atau rusak saat perjalanan.

Menggunakan Bahan Kemasan yang Tidak Standar

Banyak UMKM masih menggunakan bahan kemasan seadanya tanpa memperhatikan standar ekspor. Misalnya, karton tipis atau plastik yang mudah robek saat pengiriman internasional. Akibatnya, barang lebih rentan rusak sebelum sampai ke konsumen.

Bahan kemasan yang tidak sesuai standar juga bisa ditolak oleh bea cukai negara tujuan. Beberapa negara memiliki aturan ketat terkait penggunaan material kemasan. Hal ini membuat produk berisiko tidak diterima meskipun kualitasnya bagus.

Solusinya adalah memilih bahan kemasan yang kuat, ramah lingkungan, dan sesuai regulasi internasional. Dengan begitu, produk terlindungi dengan baik dan lolos pemeriksaan di negara tujuan.

Label Produk Tidak Sesuai Regulasi Negara Tujuan

Label produk yang tidak sesuai regulasi adalah salah satu alasan barang sering tertahan di bea cukai. Beberapa negara mewajibkan label berbahasa lokal atau mencantumkan informasi tertentu. Tanpa itu, barang bisa ditolak masuk.

Kesalahan ini sering terjadi karena UMKM hanya menggunakan label standar pasar lokal. Padahal, pasar internasional membutuhkan penyesuaian yang lebih spesifik. Misalnya, label gizi, simbol daur ulang, atau sertifikasi halal di negara tertentu.

Dengan menyesuaikan label sesuai regulasi negara tujuan, UMKM dapat menghindari risiko penolakan. Hal ini juga menunjukkan profesionalitas dan kesiapan produk di pasar global.

Informasi Produk Tidak Lengkap di Kemasan

Kesalahan lain adalah tidak mencantumkan informasi lengkap pada kemasan. Banyak UMKM hanya menuliskan nama produk tanpa detail tambahan. Padahal, konsumen internasional membutuhkan informasi lebih jelas sebelum membeli.

Informasi penting yang sering terlewat meliputi komposisi, tanggal produksi, tanggal kadaluarsa, serta cara penggunaan. Kekurangan informasi ini bisa membuat konsumen ragu membeli produk. Bahkan, di beberapa negara, produk tanpa informasi lengkap tidak boleh dijual.

Dengan melengkapi informasi pada kemasan, UMKM bisa membangun kepercayaan konsumen. Hal ini juga meningkatkan daya saing produk dibanding kompetitor. Informasi yang jelas membuat produk lebih profesional di mata pasar global.

Tidak Memperhatikan Branding & Desain

Kemasan yang fungsional saja tidak cukup untuk bersaing di pasar global. Banyak UMKM mengabaikan aspek branding dan desain dalam kemasan produk. Akibatnya, produk kurang menarik dibandingkan kompetitor internasional.

Desain kemasan yang menarik dapat meningkatkan nilai jual produk. Branding yang kuat melalui logo, warna, dan cerita produk membantu konsumen lebih mudah mengenali merek. Hal ini penting untuk menciptakan identitas di pasar yang kompetitif.

Dengan menggabungkan fungsi perlindungan dan estetika, kemasan menjadi alat pemasaran yang efektif. Produk yang dikemas dengan baik lebih mudah menarik perhatian pembeli internasional. Ini adalah strategi penting bagi UMKM untuk naik kelas.

Lalai dalam Pengujian Ketahanan Kemasan

Banyak UMKM langsung mengirim barang tanpa melakukan uji coba ketahanan kemasan. Padahal, perjalanan ekspor melibatkan proses bongkar muat berulang dan kondisi cuaca ekstrem. Tanpa uji coba, produk berisiko rusak di perjalanan.

Pengujian kemasan dapat dilakukan dengan simulasi guncangan, kelembapan, dan tekanan. Hal ini memastikan produk tetap aman hingga sampai ke konsumen akhir. Forwarder berpengalaman biasanya juga memberikan standar uji ketahanan kemasan.

Dengan melakukan uji coba sebelum ekspor, UMKM dapat mengurangi risiko kerusakan barang. Hal ini tidak hanya menghemat biaya penggantian, tetapi juga menjaga reputasi produk di pasar global. Kemasan yang teruji menjadi bukti profesionalisme UMKM.


Kesalahan dalam Strategi Pengiriman

Pemilihan metode pengiriman yang salah sering membuat biaya membengkak atau barang terlambat. Bagian ini membahas kesalahan umum dan solusinya.

Salah Memilih Jalur Transportasi (Udara vs Laut)

Banyak UMKM melakukan kesalahan dalam memilih jalur transportasi. Mereka sering menggunakan jalur udara meskipun barang tidak mendesak, sehingga biaya pengiriman membengkak. Sebaliknya, ada juga yang memilih jalur laut untuk barang mudah rusak sehingga kualitas produk menurun.

Pemilihan jalur transportasi harus disesuaikan dengan jenis barang dan kebutuhan buyer. Barang dengan volume besar dan tidak mendesak lebih cocok dikirim melalui laut. Sedangkan barang bernilai tinggi atau mudah rusak lebih aman melalui udara.

Dengan pertimbangan yang tepat, UMKM bisa menekan biaya sekaligus menjaga kualitas produk. Forwarder biasanya dapat memberikan rekomendasi terbaik sesuai kondisi. Hal ini membantu UMKM lebih efisien dalam ekspor.

Tidak Memanfaatkan Konsolidasi Kargo

Banyak UMKM pemula mengirim barang dengan volume kecil secara terpisah. Hal ini membuat biaya per unit barang menjadi lebih mahal. Padahal, ada opsi konsolidasi kargo yang bisa menekan biaya pengiriman.

Konsolidasi kargo memungkinkan beberapa pengiriman digabung menjadi satu kontainer. Cara ini sangat efektif untuk UMKM yang baru mulai ekspor dalam jumlah terbatas. Dengan demikian, ongkos kirim lebih efisien tanpa mengurangi kualitas layanan.

Forwarder biasanya menyediakan layanan konsolidasi bagi UMKM. Dengan memanfaatkan fasilitas ini, UMKM dapat lebih kompetitif dalam menentukan harga jual di pasar global. Konsolidasi kargo menjadi strategi cerdas untuk menekan biaya ekspor.

Mengabaikan Tracking & Monitoring Barang

Salah satu kesalahan yang sering diabaikan adalah tidak memanfaatkan sistem tracking. UMKM sering menyerahkan barang tanpa mengetahui status pengiriman. Akibatnya, sulit memantau jika ada kendala di perjalanan.

Tracking dan monitoring memberi transparansi penuh pada proses pengiriman. UMKM dapat memantau lokasi barang secara real time dan menginformasikan status ke buyer. Hal ini meningkatkan rasa aman dan profesionalitas dalam berbisnis.

Forwarder berpengalaman biasanya menyediakan layanan tracking otomatis. Dengan memanfaatkannya, UMKM bisa lebih cepat mengambil tindakan jika terjadi keterlambatan. Monitoring barang menjadi langkah penting dalam menjaga kepercayaan buyer.

Tidak Mengantisipasi Waktu Transit & Bea Cukai

Banyak UMKM tidak memperhitungkan waktu transit dan proses bea cukai. Mereka hanya mengandalkan estimasi pengiriman tanpa mempertimbangkan faktor tambahan. Akibatnya, barang sering terlambat sampai ke pembeli internasional.

Waktu transit bisa berbeda tergantung rute, metode pengiriman, dan musim tertentu. Proses pemeriksaan bea cukai juga dapat memperpanjang waktu pengiriman. Jika tidak diantisipasi, keterlambatan ini bisa merugikan reputasi bisnis.

Solusinya adalah selalu menambahkan buffer waktu pada jadwal pengiriman. Dengan estimasi realistis, UMKM bisa menjaga kepercayaan buyer. Perencanaan matang membuat ekspor lebih lancar dan minim risiko.

Tidak Menggunakan Forwarder Berpengalaman

Kesalahan fatal lain adalah memilih forwarder tanpa pengalaman yang memadai. Forwarder abal-abal sering menawarkan harga murah, tetapi tidak memahami regulasi internasional. Hal ini membuat barang berisiko tertahan atau bahkan gagal sampai.

Hubungi kontak kami untuk konsultasi gratis.

Forwarder berpengalaman memiliki jaringan luas, pemahaman dokumen, dan akses jalur pengiriman terbaik. Mereka juga bisa membantu memberikan solusi ketika terjadi masalah di perjalanan. Keunggulan ini sangat penting bagi UMKM yang baru memulai ekspor.

Dengan bekerja sama dengan forwarder terpercaya, UMKM bisa lebih tenang menghadapi proses ekspor. Dukungan profesional membantu menjaga keamanan barang sekaligus menekan biaya. Pemilihan forwarder yang tepat adalah investasi jangka panjang.


Kesalahan dalam Pemasaran & Komunikasi dengan Buyer

Selain produk dan logistik, komunikasi dengan pembeli juga sangat menentukan keberhasilan ekspor. Banyak UMKM yang gagal karena kurang profesional di aspek ini.

Tidak Memahami Kebutuhan Buyer Internasional

Salah satu kesalahan terbesar UMKM adalah tidak memahami kebutuhan dan preferensi buyer internasional. Mereka sering kali hanya menawarkan produk tanpa menyesuaikan dengan spesifikasi yang diminta. Hal ini membuat buyer ragu untuk menjalin kerja sama jangka panjang.

Kebutuhan buyer berbeda-beda tergantung negara dan segmen pasar. Misalnya, buyer di Eropa lebih fokus pada produk ramah lingkungan, sementara di Timur Tengah lebih menekankan aspek halal. Tanpa riset mendalam, produk UMKM bisa kehilangan peluang besar.

Dengan memahami kebutuhan buyer, UMKM dapat menyesuaikan strategi penawaran. Hal ini tidak hanya meningkatkan peluang penjualan, tetapi juga membangun hubungan bisnis yang lebih solid. Pemahaman pasar menjadi kunci kesuksesan ekspor.

Respon Lambat dalam Negosiasi atau Komunikasi

Banyak UMKM gagal mendapatkan kontrak karena lambat dalam merespon buyer. Dalam dunia ekspor, kecepatan komunikasi sangat penting. Buyer internasional biasanya mengharapkan jawaban cepat dan profesional.

Respon lambat memberi kesan kurang serius atau tidak siap bekerja sama. Hal ini bisa membuat buyer beralih ke kompetitor lain yang lebih responsif. Kecepatan dalam berkomunikasi menjadi indikator penting profesionalitas bisnis.

Solusinya adalah menyiapkan tim atau setidaknya satu orang yang fokus pada komunikasi dengan buyer. Dengan respon cepat dan tepat, UMKM dapat meningkatkan kepercayaan serta memperbesar peluang mendapatkan kontrak.

Informasi Produk Tidak Transparan

Salah satu faktor yang membuat buyer ragu adalah kurangnya transparansi informasi produk. UMKM sering hanya menampilkan sisi positif tanpa menjelaskan detail penting. Padahal, buyer membutuhkan data lengkap sebelum melakukan pembelian besar.

Informasi seperti bahan baku, sertifikasi, kapasitas produksi, hingga proses distribusi sangat dibutuhkan. Kurangnya transparansi dapat menimbulkan kecurigaan dan mengurangi minat buyer. Hal ini bisa berakibat pada gagalnya kerja sama.

Dengan memberikan informasi yang jelas dan jujur, UMKM dapat meningkatkan kredibilitas. Transparansi menunjukkan bahwa bisnis tersebut siap bersaing di pasar global. Buyer akan lebih percaya pada mitra yang terbuka dan profesional.

Tidak Menyediakan Sampel Produk dengan Baik

Sampel produk adalah bagian penting dalam proses ekspor. Banyak UMKM gagal karena tidak menyediakan sampel dengan kualitas yang sama seperti produksi massal. Hal ini mengecewakan buyer dan menurunkan kepercayaan mereka.

Sampel berfungsi sebagai representasi kualitas produk yang sebenarnya. Jika sampel tidak sesuai, buyer akan meragukan kemampuan UMKM untuk memenuhi pesanan besar. Hal ini bisa membuat peluang kerja sama hilang begitu saja.

Untuk menghindari kesalahan ini, UMKM harus memastikan bahwa sampel benar-benar mewakili produk utama. Dengan sampel yang konsisten, buyer akan lebih yakin melakukan pemesanan dalam jumlah besar. Strategi ini penting untuk membangun reputasi positif.

Kurang Memanfaatkan Platform Digital & Pameran

Banyak UMKM masih mengandalkan cara konvensional dalam memasarkan produk ekspor. Padahal, platform digital dan pameran internasional adalah sarana efektif untuk menjangkau buyer global. Tidak memanfaatkannya berarti kehilangan peluang besar.

Marketplace internasional, media sosial, dan website resmi dapat membantu meningkatkan visibilitas produk. Pameran internasional juga membuka peluang bertemu langsung dengan calon buyer. Keduanya adalah strategi yang saling melengkapi untuk penetrasi pasar global.

Dengan memanfaatkan platform digital dan pameran, UMKM dapat memperluas jangkauan pemasaran. Produk lebih mudah dikenal, dan peluang kerja sama dengan buyer internasional semakin besar. Hal ini mempercepat pertumbuhan ekspor UMKM.


FAQ tentang Kesalahan UMKM Saat Ekspor

Apa saja kesalahan umum UMKM saat ekspor?

Kesalahan umum UMKM saat ekspor meliputi salah memilih produk, dokumen tidak lengkap, pengemasan tidak standar, strategi pengiriman kurang tepat, hingga komunikasi yang kurang profesional dengan buyer.

Bagaimana cara menghindari kesalahan dokumen ekspor?

UMKM perlu menyiapkan invoice, packing list, dan sertifikat asal (COO) secara benar. Selain itu, penting memahami regulasi negara tujuan serta menggunakan jasa forwarder berpengalaman untuk memastikan dokumen lengkap dan sesuai aturan.

Mengapa pengemasan sangat penting dalam ekspor UMKM?

Pengemasan melindungi barang selama perjalanan jauh dan menunjukkan profesionalitas. Kemasan yang salah dapat membuat produk rusak atau ditolak di negara tujuan, sementara kemasan yang sesuai standar meningkatkan kepercayaan buyer.

Bagaimana memilih forwarder yang bisa dipercaya UMKM?

Forwarder terpercaya biasanya memiliki pengalaman luas, jaringan global, serta layanan lengkap dari dokumen hingga tracking. UMKM sebaiknya membandingkan layanan, tarif, dan ulasan pelanggan sebelum memutuskan.

Apakah kesalahan komunikasi dengan buyer bisa menghambat ekspor?

Ya, komunikasi yang lambat atau tidak transparan dapat menurunkan kepercayaan buyer. Dengan respon cepat, informasi jelas, dan penyediaan sampel yang baik, UMKM bisa menjaga kepercayaan buyer internasional.


Kesimpulan & Solusi

Banyak UMKM gagal menembus pasar internasional bukan karena produk mereka kurang menarik, melainkan karena melakukan kesalahan prosedural. Mulai dari pemilihan produk, pengurusan dokumen, pengemasan, strategi pengiriman, hingga komunikasi dengan buyer, semuanya bisa berdampak besar pada keberhasilan ekspor.

Dengan mempelajari kesalahan umum ini, UMKM dapat lebih siap dan menghindarinya sejak awal. Persiapan yang matang dan perencanaan yang baik akan membuat proses ekspor lebih lancar, hemat biaya, dan minim risiko. Dukungan forwarder berpengalaman juga menjadi faktor penting dalam memastikan barang sampai dengan aman ke negara tujuan.

Jika Anda adalah pelaku UMKM yang ingin ekspor lebih aman dan efisien, layanan forwarder PT Madika Trans Indonesia siap membantu Anda. Jangan ragu untuk menghubungi kami melalui halaman kontak agar produk Anda dapat menjangkau pasar global dengan lebih mudah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait